Friday, April 8, 2011

Entrepreneur dan Hukum Polaritasi

Segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Ada terang ada gelap, ada senang ada sedih, ada kiri ada kanan, ada atas ada bawah, ada pria ada wanita, dan seterusnya. Kita harus siap menerima kedua sisi dari setiap sesuatu tersebut, namun kita harus berorientasi kepada sisi positif.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Alam Nasyrah: 5-6)

Donald Trump, misalnya, secara finansial pernah ber-status hutang mendekati satu triliyun, pernahkah ia bersedih karena hal itu? Tidak. Ia sadar betul bahwa dibalik posisinya sebagai penghutang, menyadari bahwa tidak setiap orang bisa memiliki predikat seperti itu. Dirinya menjadi orang termahal bagi bank tempat ia berhutang. Trump justru memiliki bargain power yang tinggi terhadap bank tersebut, sementara tak ada pilihan bagi bank itu untuk mencari solusi agar uangnya bisa kembali bahkan kadang-kadang terpaksa harus menambah pin-jaman lagi kepadanya dengan harapan usaha yang sedang ia geluti berhasil menciptakan untung yang memungkinkan baginya untuk menyelesaikan kuwajibannya.

Contoh lain, saya punya sahabat yang tak mungkin saya sebutkan namanya di sini. Ia berstatus hutang puluhan milyard kepada bank terbesar di Indonesia. Bagi bank tersebut ia men-jadi orang yang termahal. Nyawanya begitu berharga bagi bank itu. Namun karena ia memiliki usaha yang cukup besar, bahkan sempat meraih predikat super brand artinya sangat terkenal, bank tersebut memutuskan sahabat saya sebagai icon pengusaha binaan-nya sehingga bebas dari kejaran untuk memenuhi kuwa-jiban mengembalikan hutangnya.

Lebih menarik lagi, barang kali inilah tipologi entrepreneur sejati, ketika saya tanyakan padanya pada suatu kesempatan bagaimana menghadapi masalah hutang-nya, ia malah berbalik bertanya, ‘Masalah?’ dan sambil terse-nyum melanjutkan, ’saya tidak punya masalah, yang punya ma-salah kan bank itu karena uangnya saya pinjam dalam jumlah besar.’ ‘Dan bagi saya,’ katanya meneruskan ceritanya, ‘ber- hutang itu mulia karena dengan demikian bank tersebut mampu menggaji karyawannya dengan bunga pinjaman yang saya setor-kan per bulannya.’

Pada kenyataannya tak bisa dipungkiri bahwa banyak pengusaha yang hidup diatas cash flow. Artinya, apabila dikal-kulasi atau semua aset dijual nilainya jauh di bawah modal pin-jaman awalnya. Namun karena masih bisa menjaga konsisten-sinya dalam membayar bunganya, bagi bank terkait dianggap tidak ada masalah. Toh pengelola bank saat ini sudah merasa cukup dengan bertanggung njawab dengan menjaga aliran cash flow pada saat ini. Sedangkan akibat ketidak-sehatan sistem ini biarlah ditanggung atau dipikirkan generasi mendatang. Mudah-mudahan pembaca bisa menangkap bagaimana para entrepreneur sejati mensikapi hukum polaritas ini, meskipun bukan berarti saya merekomendasikan kepada pembaca untuk memi-liki sifat suka hutang seperti kedua tokoh tersebut. Bagaimana pun keberhasilan yang terbaik apabila kita menciptakan untung diatas biaya operasional yang di dalamnya termasuk kuwajiban mengembalikan pinjaman modalnya.

Penekanan pada hukum ini adalah bahwa kita harus me-nerima dan bijak dalam mensikapi kedua sisi dari setiap hal. Ingin makan enak, berlapar-laparlah dulu. Ingin senang, ya bersakit-sakit dahulu. Lantas bagaimana dengan mereka yang terlahir langsung mendapatkan warisan bernilai milyaran rupi-ah? Jika dipandang dari kacamata awam seolah-olah membaha-giakan, padahal sekali-kali tidak. Hukum polaritas ini bersifat mutlak. Kita sulit merasakan suka duka mereka yang bergeli-mang harta sesulit kita merasakan kebahagiaan pengais sampah yang menemukan harta meskipun hanya senilai ratusan ribu rupiah.

Kebahagiaan adalah state of mind, perkara pengelolaan hati. Kuncinya terletak pada kapahaman hukum-hukum Allah atau hukum-hukum kehidupan. Mendingan kita belajar dari sahabat Umar bin Khatab bahwa kesehariannya menikmati takdir-takdir Allah. Yang terpenting bagi entrepreneur adalah kejelian meng-ambil hikmah dan manfaat dari setiap orang dan setiap situasi. Ingat, bahwa setiap orang pasti memiliki permasalahan hidup dan dari permasalahan itulah ia membutuhkan pelayanan untuk menyelesaikannya dan dari sanalah kita bisa masuk dengan niatan positif dan cara-cara yang positif pula, selanjutnya ter-serah bagaimana kita mengelola potensi silaturahmi tersebut.

’Sesungguhnya barang siapa ingin rezekinya diperluas dan diperpanjang umurnya maka sambunglah silaturahmi.’ (HR. Bukhari)

Sejauh-jauhnya jarak interpersonal kita dengan orang lain hanyalah berjarak tidak lebih dari empat orang. Anda tahu maksudnya? Sebagai contoh berapa jarak interpersonal antara saya penulis buku ini dengan George W. Bush? Jawabannya adalah dua. Lebih jelasnya, saya punya sahabat yang menjadi anggota MPR RI yang sudah barang tentu ia memiliki akses ke Presiden SBY, dan Presiden SBY memiliki akses langsung ke George W. Bush.

Hanya saja, karena saya tidak memiliki dan tidak ingin berkepentingan dengan Bush, saya tidak tertarik untuk berhubungan denganya. Setiap orang memiliki masalah yang harus diselesaikan dalam hidup ini. Karena menyelesaikan masalah selalu mem-butuhkan kehadiran orang lain, maka masalah seseorang adalah peluang bagi terjadinya kerja sama dengan orang lain.

Begitu pulalah yang terjadi pada Bush, setiap orang yang berpotensi menjadi bagian dari penyelesaian masalahnya berpeluang untuk menjalin hubungan dengannya. Dengan demikian saya pun memiliki peluang untuk mengakses George W. Bush. Kuncinya adalah dengan membangun hubungan yang baik dengan Presi-den SBY menggunakan akses kawan saya anggota MPR RI tadi. Dalam membangun hubungan dengan Presiden SBY harus menggunakan prinsip-prinsip interpersonal building yang benar antara lain: memahami layanan apa yang dibutuhkan beliau, memberi manfaat bagi beliau, sama sekali tidak merepotkan beliau dan justru beliau harus merasa terbantu dalam menyele-saikan sebagian dari permasalahan yang sedang beliau hadapi. Setelah hubungan interpersonal dengan Presiden SBY terbentuk otomatis mudah bagi saya untuk mendapatkan rekomendasi beliau untuk mengakses George W. Bush.

Itu misalnya lho! Namun karena saya tidak melihat ada potensi manfaat menjalin hubungan interpersonal dengannya, apa pasal saya harus membangun hubungan dengan sosok kontroversial itu. Yang penting pembaca yang budiman tahu bahwa kita dengan orang lain berjarak tidak lebih dari tiga orang. Hal ini harus menjadi salah satu mindset kita jika ingin menjadi entrepreneur yang berhasil. Demikianlah betapa penting hukum polaritas dalam kehidupan seseorang. (Wasi Darmolono, LPM Suryaglobal)

No comments:

Post a Comment