Friday, April 8, 2011

Entrepreneur dan Hukum Tabur-Tuai

The law of sowing and reaping. Begitulah kira-kira jika terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Siapa menanam dialah yang akan memetik hasilnya, sopo nandur bakal ngunduh. Apa-pun suku dan bahasa kita, pendek kata, bisa dipastikan memiliki moto seperti ini. Penganut agama Islam sangat meyakini kebe-naran hukum ini karena sesuai dengan firman Allah swt sbb:

Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan. (QS. At Tahrim: 7)

Sangat jelas bahwa hukum-hukum tersebut mangajak setiap orang berbuat sesuatu agar menjadi bagian dari sebab datangnya rejeki. Perhatikan dan hayatilah hukum-hukum ber-ikut ini. Memahami kebenaran logika hukum ini saja tidaklah cukup. Hukum ini harus dijadikan sebagai prinsip dan pedoman hidup seseorang dan betul-betul diaplikasikannya dalam kehi-dupan sehari-hari. Sudahkah pembaca yang budiman menerap-kan hukum ini sebagai prinsip dan pedoman hidup dalam ber-karya? Beberapa indikator berikut ini insya Allah dapat dijadi-kan sebagai alat ukur apakah seseorang sudah menerapkan hu-kum tabur-tuai ini dalam kehidupannya.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. (QS. Al Israa’: 7)

Yang pertama, seseorang belum bisa dikatakan menerap-kan hukum tabur tuai dalam hidupnya apabila ia masih bermen-tal penunggu warisan. Sebagian besar masyarakat tidak bisa menerima bahwa menunggu warisan adalah suatu kesalahan. Dari sisi hukum formal maupun agama memang benar, akan tetapi secara mental merupakan sebuah cacat atau kekurangan. Dikatakan cacat dari sisi mental karena seseorang yang merasa warisanlah satu-satunya solusi dalam kehidupannya tidak memi-liki konsep keberadilan dalam mindsetnya.

Sedikitpun orang seperti ini tidak terbersit dalam hatinya untuk memberi nilai pada kehidupan ini. Padahal konsep yang benar adalah sebaik-baiknya rejeki yang kita makan adalah hasil jerih payah kita sendiri. Harus ada kontribusi pada kehidupan ini sehingga me-lalui mekanisme alamiahnya kehidupan ini memberikan kom-pensasi kapada seseorang yang telah memberikan sesuatu pada kehidupan ini entah berupa karya yang tangible maupun jasa. Yang kedua, seseorang belum bisa dikatakan menerap-kan hukum tabur-tuai dalam hidupnya apabila masih memiliki mental menunggu bantuan. Kemandirian adalah modal terpen-ting bagi seorang entrepreneur sebagaimana nasehat sahabat Ali bin Abi Thalib yang sangat populer yaitu bahwa modal terbesar dalam hidup adalah kemandirian.

Kedua mental tersebut diatas, menunggu warisan mau-pun mengharap bantuan merupakan virus terjahat terhadap men-tal entrepreneurial seseorang dan berbanding seratus delapan puluh derajat terbalik dengan hukum tabur-tuai. Sedikit saja seseorang penyakit mental terjahat di dunia ini, praktis otomatis gugur ia sebagai penyandang gelar penganut hukum tabur-tuai. Saya sangat prihatin mendengar sekelompok masyarakat menuntut realisasi bantuan yang telah dijanjikan pemerintah untuk mengganti kerusakan tempat tinggal akibat bencana alam. Barang kali masih bisa dimaklumi apabila mereka sekelompok masyarakat awam yang relatif tidak berpendidikan. Yang mem-buat saya shock adalah bahwa pada kenyataannya mereka didu-kung, disponsori, dan diprovokasi oleh sekelompok organisasi sosial yang mengaku dirinya sebagai relawan yang bernaung di bawah bendera lembaga swadaya masyarakat.

Adalah lebih baik bagi salah satu di antara kalian untuk memikul kayu bakar di punggungnya, dan memberi sedekah darinya, dan tidak bergantung kepada orang lain, dari pada meminta-minta dari orang lain di mana mereka memberinya sesuatu atau menolaknya. (HR. Muslim)

Sedikit pun tidak menyadari bahwa sementara mereka berjuang demi gelar pahlawan kemanusiaan, sementara itu me-reka sedang berbuat jahat terhadap kemanusiaan itu sendiri da-lam jangka panjang karena pada dasarnya sebenarnya mereka sedang menanamkan mental peminta-minta pada masyarakat. Saya sangat berharap bahwa pembaca yang budiman tidak pernah berpikir untuk menjadi bagian dari mereka. Justru sebaliknya sebisa mungkin memerangi sepak terjang mereka. Bukannya memerangi pemiskinan struktural malah sebaliknya ikut membangun mental peminta-minta. Namun saya yakin bahwa dengan anda membeli buku ini merupakan pertanda bahwa anda termasuk orang-orang yang bermental mandiri atau setidaknya ada greget dan upaya untuk menjadi entrepreneur. Mudah-mudahan keyakinan saya tidak salah.

Entrepreneur sejati sangat tabu tergantung pada orang lain. Yang ia miliki adalah sebuah prinsip bahwa ia harus ber-buat sesuatu agar memetik suatu hasil, bahwa ia harus adil pada diri sendiri maupun pada kehidupan, bahwa rejeki yang ia per-oleh harus halal dengan cara berikhtiar secara proporsional, ya-kin bahwa tidak punya hak sama sekali untuk menuai sesuatu tanpa menabur benih lebih dulu. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:

Tidak ada sama sekali seseorang yang makan suatu makanan yang lebih baik dari hasil kerjanya sendiri (HR. Bukhari)

Kita harus bersyukur karena alam ini sangat mudah di-baca hukum normatifnya. Kita harus berterima kasih kepada Allah sang pencipta kehidupan ini karena begitu mudahnya dipelajari dan dipahami bahwa jika kita menanam semangka yang bakal panen semangka, barang siapa menanam jagung ya bakal menuai jagung. Alangkah bingungnya kita dibuatnya apabila menanam jagung kok menuai semangka. Alhamdulillah, sekali lagi kita harus bersyukur bahwa hukum kehidupan ini sangat pasti dan mudah dipahami.

Memperbaikilah kalian didalam mencari penghidupan dunia yang halal, maka sesungguhnya setiap orang akan dimudahkan menurut kodarnya (HR. Ibnu Majah).

Salah seorang dari kawan saya yang hobinya bercanda berargumen dengan mengatakan bahwa tetangganya tidak pernah menanam padi tetapi sering menuai padi orang lain alias mencuri. Begitu bangganya ia karena merasa mudah mematahkan hukum ini. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa tetangganya itu tengah menabur benih ketidak-adilan dan pada saatnya nanti bakal menuai akibatnya.

‘Saudara saya,’ kata kawan saya yang lainnya,’ tidak memiliki sawah namun kok di rumahnya banyak padi, dan saya tahu persis bahwa ia tidak pernah mencuri padi, bagaimana ini?’ tukasnya sambil tersenyum menunggu tanggapan dari saya.

Saya tahu bahwa ia mengerti jawabannya. Saudaranya memang tidak memiliki sawah dan tak pernah menanam padi, namun karena pekerjaannya manabur jasa memetik padi, ia memetik hasilnya berupa imbalan atau upah yang diambilkan dari seba-gian hasil petikannya tersebut. Kita harus hati-hati jika ingin bercanda.

Kelihatannya sepele mempermainkan hukum-hukum alam, padahal meskipun sedikit dan tidak langsung, bercanda seperti itu bisa mengakibat-kan tertanamnya nilai-nilai negatif pada benak seseorang. Ibarat bermain api beresiko kena api yang bukan tidak mungkin bisa mengakibatkan kematian. Lebih jauh tentang tertanamnya nilai-nilai dalam memori akan saya bahas pada bab hukum ja-jah pikir atau vibrasi.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk dipahami adalah permainan judi terselubung yang saat ini sedang merebak di negara kita. Bentuk-bentuk perjudian tak kentara tersebut antara lain: quiz SMS behadiah mobil atau uang jutaan, misalnya dengan mengeluarkan uang sejumlah dua ribu rupiah untuk biaya SMS, kemudian anda diiming-iming hadiah yang harus diperebutkan jutaan orang derngan mekanisme mengundi nomor urut pendaftaran anda.

Dengan dalih iseng-iseng berhadiah para pemimpi kesuksesan berbondong-bondong bergabung dalam kegiatan laknatullah ini. Pencetus ide jahat ini tahu betul bahwa masyarakat mudah dibohongi dengan menayangkan setiap pemenang di layar televisi sehingga berkesan seolah-olah hadiah itu mudah didapat dengan kalimat jebakan quiz ini berhadiah milyaran rupiah.

Kejahatan lain yang sangat halus dan nyaris tak kentara adalah berupa permainan yang dikemas dengan nuansa keilmuan atau scientifical-imaged games, misalnya who wants to be a millionaire. Penggagas ide ini tak lebih dari pejudi brilian yang tak pernah kalah. Bayangkan saja kurang lebih seratus juta orang yang merasa dirinya cendekiawan merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Terdukung dengan dalih iseng-iseng berhadiah dan biaya yang relatif tak membebani, ikut andil adu nasib.

Tidak kalah penting untuk kita waspadai adalah money game yang bergandengan tangan dengan sistem arisan dan sebagian multi level marketing. Apapun bentuk quiz seperti diatas dan money game lainnya sangat bertentangan dengan hukum tabur tuai. Permainan tersebut cenderung membangun mental selfish atau mental cari enaknya sendiri, dengan tidak memberi kontribusi atau nilai pada kehidupan namun berharap bisa menikmati hidangan yang tersaji dalam kehidupan ini.

No comments:

Post a Comment